Merawat Episentrum Kehidupan: Harmoni Tradisi dan Konservasi Ekologis dalam Ritual Bersih Sendang Nggupe di Ngawi

NGAWI .FREKWENSIPOS.COM — Di tengah gempuran modernitas dan arus globalisasi yang kian mengikis kearifan lokal, masyarakat Kabupaten Ngawi menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga warisan leluhur. Puluhan warga dari dua dusun di Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menggelar ritual adat “Bersih Dusun” yang lebih dikenal dengan istilah ” Nyadran ” di Sendang Nggupe, sebuah situs mata air historis peninggalan nenek moyang yang disakralkan.

 

Aksi kultural ini bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan sebuah bentuk manifestasi kesadaran ekologis dan spiritual masyarakat setempat dalam menjaga kosmologi kehidupan mereka dan wujud syukur agar tidak tergerus oleh zaman.

 

Sinergi Gotong Royong dan Konservasi Alam

Sendang Nggupe, yang terletak di bawah naungan rindangnya pohon-pohon purba, memiliki nilai strategis yang luar biasa. Sumber mata air ini dikenal perenial—tetap mengalir jernih tanpa henti meski didera musim kemarau panjang. Bagi warga Dusun Kliteh dan Dusun Sepreh, sendang ini adalah urat nadi kehidupan.

 

Dengan spirit komunal yang kental, warga kedua dusun tersebut bahu-membahu menguras air sendang dan membersihkan material sampah di sekitar area sumber. Prosesi rukun ini merefleksikan konsep kearifan lokal (local wisdom) yang mengawinkan aspek sosiologis manusia dengan kelestarian alam lingkungan.

 

Simfoni Seni: Gamelan dan Tarian Tayub

Uniknya, kegiatan fisik membersihkan sendang ini dibalut dengan estetika budaya yang adiluhung. Alunan magis instrumen gamelan Jawa terus bergema, mengiringi setiap peluh warga yang bekerja. Tidak hanya itu, suasana ritual semakin sakral dan semarak dengan ditampilkannya tarian tradisional Tayub di sela-sela kegiatan. Perpaduan antara kerja bakti dan artikulasi seni ini menciptakan harmoni pertunjukan budaya yang memikat.

“Tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan. Saya hanya melaksanakan sesuai pedoman dari nenek moyang. Makna filosofis dari bersih-bersih sendang ini adalah karena air merupakan episentrum atau sumber utama kehidupan warga di desa kami,” ungkap Sunarno, Kepala Desa Selopuro.

 

Keberlanjutan Warisan bagi Generasi Masa Depan

Sunarno menambahkan bahwa pihak pemerintah desa berkomitmen penuh untuk melakukan transmisi budaya kepada generasi muda agar nilai-nilai luhur ini tidak punah. Air dari Sendang Nggupe memegang peranan vital, tidak hanya untuk kebutuhan domestik rumah tangga, tetapi juga menyokong sektor pertanian yang menjadi pilar ekonomi utama Desa Selopuro.

 

Melalui ritual Bersih Sendang Nggupe ini, masyarakat Ngawi berhasil membuktikan bahwa tradisi masa lalu dan kebutuhan masa kini dapat berjalan beriringan, menciptakan sebuah simbiosis mutualisme antara manusia, budaya, dan alam semesta. Rif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *