Nganjuk, Frekwensipos.com – Di tengah rimbunnya kawasan hutan lereng Gunung Pandan, warga Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kembali menggelar tradisi Bersih Desa atau Nyadran yang sarat makna budaya dan spiritual, Jumat (19/6/2026).
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini memiliki keunikan tersendiri. Ada Sebanyak tujuh gadis desa mengenakan pakaian tradisional bak putri kerajaan Jawa dan membawa air yang diambil dari tujuh sumber mata air (sendang) yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Selain itu, warga juga mengarak tujuh tumpeng hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas berkah alam yang diberikan Tuhan.
Meski dihuni sekitar 650 jiwa, masyarakat Desa Bendoasri tetap menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur yang telah menjadi identitas desa selama puluhan tahun. Tahun ini, rangkaian kegiatan Bersih Desa bahkan digelar selama tujuh hari penuh dengan berbagai acara budaya dan kebersamaan warga.
Ratusan warga tampak antusias mengikuti prosesi kirab yang dimulai dari Balai Desa menuju kediaman Kepala Desa. Dalam arak-arakan tersebut, warga membawa aneka hasil bumi, makanan tradisional yang dibungkus daun pisang, serta tumpeng kambing berukuran besar yang menjadi daya tarik utama perayaan.
Suasana semakin khidmat ketika sejumlah pria mengenakan pakaian adat keraton lengkap dengan keris dan tombak pusaka desa. Setibanya di lokasi utama acara, air dari tujuh sendang kemudian disatukan ke dalam sebuah kendi sebagai simbol persatuan, keberkahan, dan keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat desa.
Kepala Desa Bendoasri, Dudung Kuswanto, mengatakan bahwa tradisi Bersih Desa merupakan kegiatan sakral yang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas limpahan rezeki dan kelestarian alam.
“Pengambilan dan penyemayaman air ini bertujuan agar sumber mata air tetap mengalir lancar, terhindar dari kekeringan, serta menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian hutan dan lingkungan demi kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarwarga serta memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga alam sebagai sumber kehidupan.
Meski tidak dihadiri perwakilan pemerintah daerah maupun instansi terkait bidang kebudayaan dan pariwisata, pelaksanaan Bersih Desa tetap berlangsung meriah dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Warga berharap tradisi yang menjadi kekayaan budaya lokal ini dapat terus dilestarikan dan mendapat perhatian lebih luas pada tahun-tahun mendatang.
Tradisi Bersih Desa Bendoasri menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih hidup dan terjaga di tengah perkembangan zaman. Di balik kesederhanaannya, tradisi ini menyimpan pesan penting tentang rasa syukur, pelestarian lingkungan, serta semangat gotong royong yang menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia.
(Dendy/Frekwensipos.com)
