Menjemput Berkah Suro Jamaah Al-Qadir Ngawi Revitalisasi Nilai Spiritual dan Pribumisasi Islam Lewat Ziarah Wali

0-4160x3120-0-0#

Ngawi, FrekwensiPos.Com — Memasuki H-3 menjelang 1 Muharam 1448 Hijriah—sebuah momentum sakral yang secara kultural lebih karib didefinisikan masyarakat Jawa sebagai Wulan Suro—Jamaah Tilawati Al-Qur’an lingkungan Klampisan, Kelurahan Margomulyo, Ngawi, menggelar rihlah religi. Mereka melakukan perjalanan ziarah ke makam waliyullah Syekh Asmoroqondi (Syekh Maulana Malik Ibrahim, ayahanda Sunan Ampel sekaligus kakek Sunan Bonang) di telatah Tuban pada Sabtu (12/05/2026).

Ekskursi spiritual ini dibimbing langsung oleh pengasuh Jamaah Al-Qadir, Ustadz H. Moh. Yasin pengasuh ponpes Al Qur’an Nurul Huda Karang Geneng, Jl.saluran ketonggo No.Rt 04/01, Winong, Margomulyo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur 63217 dengan didampingi oleh tiga pengurus Takmir Masjid Al-Qadir. Perjalanan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah manifestasi konkret dari penghormatan terhadap historiografi penyebaran Islam di tanah Jawa.

Ziarah Kubur: Refleksi Intelektual dan Pribumisasi Islam
Dalam diskursus mengenai asimilasi budaya Nusantara dan eksistensi Islam, kegiatan ziarah ini merefleksikan spirit nasionalisme sekaligus religiositas yang inklusif. Meminjam pemikiran visioner Proklamator sekaligus Presiden RI ke-1, Ir. Soekarno, beliau pernah menegaskan:

“Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara yang kaya raya ini.”

Narasi kebangsaan tersebut berkelindan erat dengan tesis intelektual yang digagas oleh Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengenai konsep “Pribumisasi Islam”. Gus Dur memandang bahwa Islam tidak perlu diarabkan, melainkan harus dibumikan secara kontekstual.

Secara epistemologis, ajaran inti Islam seperti tauhid dan syariat bersifat absolut dan universal, namun manifestasi dan ekspresi kulturalnya dapat beradaptasi secara harmonis dengan kearifan lokal (local wisdom). Tradisi selamatan, tahlilan, hingga ziarah kubur yang dilakoni oleh Jamaah Al-Qadir merupakan bukti autentik bagaimana Islam meresap ke dalam urat nadi kebudayaan Nusantara tanpa kehilangan substansi teologisnya.

Rangkaian Kegiatan Rombongan
Rombongan peziarah dilaporkan tiba di Masjid Besar Baiturrohim Tuban pada pukul 10.00 WIB. Mengawali agenda dengan dimensi eskatologis yang kental, jamaah terlebih dahulu melaksanakan ibadah salat Duha secara berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan pagi bersama guna mempererat tali ukhuwah islamiyah.

Harno, selaku ketua rombongan, menjelaskan bahwa agenda spiritual ini dirancang secara simultan untuk memenuhi kebutuhan batiniah sekaligus sosialitas para jamaah.

“Setelah kegiatan awal (salat Duha dan makan pagi), rombongan langsung bergeser menuju agenda inti, yakni tawasul dan ziarah makam waliyullah Syekh Asmoroqondi. Kemudian, untuk mengakomodasi aspek penyegaran ekonomi domestik, rombongan yang mayoritas diikuti oleh ibu-ibu ini akan melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tuban,” ujar Harno kepada awak media.

Melalui kegiatan ini, Jamaah Al-Qadir Klampisan tidak hanya membawa pulang berkah spiritual dari sang wali, tetapi juga merawat memori kolektif bangsa akan indahnya Islam yang teduh, toleran, dan menyatu dengan bumi Nusantara. (FP/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *