Refleksi Kosmis dan Transendensi Spiritual Pemdes Pojok

Pemdes Pojok Gelar Malam Tirakatan Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi

NGAWI, FREKWENSIPOS.com – Menyambut momentum historis Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 yang jatuh pada tanggal 7 Juli, sebanyak 217 Desa dan Kelurahan di seluruh penjuru Kabupaten Ngawi menggelar ritual Malam Tirakatan secara serentak pada Senin malam, 6 Juli.

Nuansa sakral yang bertepatan dengan bulan Muharram (Suro) ini semakin mengeskalasi aura religius dan spiritualitas transendental di berbagai penjuru wilayah. Atmosfer penuh kekhidmatan ini sangat terasa di Desa Pojok, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi.

Sejak sore hari, Pendopo Desa Pojok telah dipadati oleh berbagai elemen masyarakat yang merepresentasikan kohesi sosial yang kuat. Tampak hadir Kepala Desa Pojok beserta seluruh perangkat desa, BPD, LPMD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, jajaran Ketua RT/RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga sekitar yang membaur dalam satu harmoni.

Preservasi Nilai Tradisi dan Local Genius
Sebagai salah satu desa yang memegang teguh status desa adat, Pemerintah Desa (Pemdes) Pojok secara konsisten melakukan preservasi kearifan lokal (local genius). Bagi masyarakat setempat, rangkaian ritus kultural—mulai dari tirakatan di makam/punden leluhur hingga pagelaran wayang kulit purwa—bukan lagi hal baru. Konsep kontinuitas budaya ini membuat mereka begitu akrab dan luwes dalam menyelenggarakan Malam Tirakatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi.

“Meskipun secara kontekstual terdapat perbedaan medium, namun secara esensial kegiatan ini memiliki tarikan napas yang sama dengan ritual Bersih Desa. Poin utamanya adalah artikulasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus merawat memori kolektif atas jasa para leluhur. Perbedaannya hanya terletak pada tata cara formalnya saja. Bak pepatah, ‘di mana bumi dipijak, di situ budaya dan adat kita junjung’,” terang Sunarno, Kepala Desa Pojok, di sela-sela kegiatan.

Menggali Makna Tirakatan: Bukan Sekadar Seremoni
Malam tirakatan merupakan bagian dari kontinuitas sejarah yang telah mengakar dalam struktur sosial masyarakat Ngawi. Agenda tahunan ini bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan sebuah medium kontemplatif untuk merekonstruksi perjuangan para pendiri daerah, memperkokoh solidaritas sosial, serta melangitkan doa demi keselamatan, kedamaian, dan kemajuan Kabupaten Ngawi.

Acara diawali dengan doa bersama yang khusyuk. Doa ini menjadi jembatan spiritual untuk menghormati dan mengenang jasa para leluhur yang telah meletakkan fondasi peradaban di tanah Ngawi, sekaligus menjadi ekspresi rasa syukur atas harmoni dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat hingga hari ini.

Dalam sambutannya , Kepala Desa Pojok, Sunarno, menekankan pentingnya memaknai malam tirakatan sebagai sarana refleksi historis sekaligus proyeksi masa depan dalam membangun daerah secara kolektif.

“Melalui malam tirakatan ini, kita melakukan reaktualisasi nilai perjuangan para leluhur yang telah mendarmabaktikan jiwa raga mereka demi berdirinya Kabupaten Ngawi sampai sekarang . Tugas kita hari ini adalah mengonversi nilai-nilai perjuangan tersebut ke dalam karya nyata demi kemajuan desa,” imbaunya.

Sunarno juga mengajak segenap warga untuk menjadikan Hari Jadi Kabupaten Ngawi ini sebagai momentum menguatkan integrasi sosial, merawat kerukunan, serta menghidupkan kembali etos gotong royong sebagai pilar utama kekuatan masyarakat agraris.

Sinergi Kolektif Menuju Kemandirian
Ia menambahkan bahwa akselerasi kemajuan daerah tidak dapat bertumpu pada peran pemerintah semata, melainkan menuntut partisipasi aktif dan sinergitas dari seluruh elemen masyarakat. Nilai-nilai altruistik, kepedulian sosial, dan kebersamaan inilah yang harus diwariskan secara turun-temurun (enkulturasi) kepada generasi muda sebagai identitas kultural masyarakat Ngawi.

Sebagai puncak prosesi spiritual, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Ketua PKK / Darmawanita Desa Pojok yang kemudian diserahkan secara simbolis kepada Kepala Desa Pojok. Dalam kosmologi Jawa, tumpeng merupakan representasi dari hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta, sekaligus hubungan horizontal antar sesama makhluk hidup.

Acara kemudian dipuncaki dengan kenduri dan ramah tamah. Seluruh hadirin menikmati hidangan yang telah disediakan dalam suasana yang guyub rukun. Momen kebersamaan ini menjadi manifestasi nyata dari jargon kebanggaan daerah: Ngawi Ramah. Red.adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *