NGAWI, FrekwensiPos.Com – Di tengah badai efisiensi fiskal dan pengetatan Alokasi Dana Desa (DD) secara nasional, gerak pembangunan infrastruktur di Desa Dumplengan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, tetap berjalan dinamis. Seluruh program kerja, baik pembangunan fisik maupun non-fisik, direalisasikan secara presisi sesuai arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).
Akselerasi pembangunan yang tetap terjaga ini tidak terlepas dari manajerial kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Dumplengan, Suwarno. Melalui pendekatan yang humanis dan bersahaja (low-profile), ia dinilai piawai menavigasi tata kelola keuangan desa di tengah keterbatasan anggaran yang ada.
“Keterbatasan ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur yang bersumber dari Dana Desa (DD) memang menjadi tantangan kolektif yang dirasakan oleh seluruh pemerintah desa, baik di tingkat Kabupaten Ngawi maupun skala nasional. Oleh karena itu, pemerintah desa dituntut ekstra cermat dalam menyusun feasibility study (studi kelayakan) dan perencanaan pembangunan. Kita harus memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan menghasilkan output infrastruktur yang fungsional dan memiliki utilitas tinggi bagi mobilitas warga,” ujar Suwarno saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Untuk tahun anggaran 2026, Pemerintah Desa Dumplengan menetapkan skala prioritas pada pembangunan sektor civil engineering berupa konstruksi Talud Penahan Tanah (TPT) di Dusun Jurug, tepatnya di lingkungan RT 002 / RW 005.
Terkait skema eksekusi proyek, Suwarno menjelaskan bahwa program ini menerapkan prinsip efisiensi regulasi. “Dengan estimasi pembiayaan di bawah Rp 50 juta, sesuai dengan regulasi pengadaan barang dan jasa di desa yang berlaku, proyek ini langsung dikelola secara swakelola oleh Pelaksana Pengelolaan Keuangan Desa (PPKD) yang digawangi oleh Ipung Apriliyanto, tanpa harus membentuk Tim Pengelola Kegiatan (TPK) terpisah,” tambahnya.
Ditemui di lokasi proyek, Ipung Apriliyanto memaparkan progres fisik pengerjaan talud tersebut yang dinilai berjalan sangat progresif. Struktur penahan tanah ini dirancang untuk menjaga stabilitas tanah dari ancaman deformasi struktural akibat tekanan lateral.
“Pengerjaan infrastruktur ini mengoptimalkan pemberdayaan tenaga kerja lokal (local resources utilization). Kebetulan mayoritas warga di sini memiliki keahlian praktis di bidang pertukangan dan konstruksi sipil. Dari aspek mutu beton (quality control) dan ketepatan waktu (time schedule), kami sangat optimistis. Dengan alokasi anggaran yang sangat efisien sebesar Rp 28,8 juta untuk volume dimensi 50×0,3×0,8 meter, progres fisik di lapangan saat ini telah mencapai akumulasi 80%,” urai Ipung secara detail.
Terkait rantai pasok (supply chain) material, Ipung mengaku sejauh ini tidak menemui kendala logistik yang berarti. Hal ini disebabkan oleh rata-rata desa di sekitar juga sedang melakukan penyesuaian pengerjaan infrastruktur ke skala mikro akibat pembatasan DD.
“Harapan kami selaku PPKD, meskipun saat ini baru bisa merealisasikan konstruksi TPT (Talud Penahan Tanah), infrastruktur ini akan memberikan proteksi lingkungan yang signifikan. Terutama dalam menghadapi musim penghujan mendatang, struktur ini akan meminimalkan risiko limpasan air permukaan (run-off) dan menjaga stabilitas lereng agar tidak terjadi longsor yang dapat mengikis badan jalan utama,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, apresiasi positif juga datang dari Sofyan, salah satu tokoh pemuda sekaligus representasi masyarakat setempat. Ia menilai kepemimpinan kepala desa sangat taktis dalam mencari solusi di tengah keterbatasan anggaran pembangunan.
“Pak Kades memiliki kapabilitas yang sangat baik dalam mensiasati keterbatasan anggaran DD. Setiap tahapan perencanaan selalu mengedepankan asas transparansi dan musyawarah partisipatif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Langkah ini sangat penting untuk mereduksi potensi friksi atau asumsi negatif seperti tebang pilih pembangunan di tengah warga,” ungkap Sofyan.
Ia juga menambahkan bahwa kualitas fisik bangunan di Desa Dumplengan secara umum sangat terjaga dan kokoh karena faktor kepemimpinan yang relevan.
“Masyarakat tidak meragukan kualitas konstruksi yang dihasilkan. Selain karena Pak Kades sendiri memiliki latar belakang (background) keahlian praktis di bidang teknik bangunan, para pekerja yang dilibatkan juga merupakan para profesional lokal yang sehari-hari memang bekerja di sektor jasa konstruksi,” pungkasnya. (Red/ Rif)
