Harmoni Kosmologi Jawa di Era Modern

0-4160x3120-0-0#

 Kelurahan Margomulyo Rajut Tirakatan dan Napak Tilas Hari Jadi Ngawi ke-668

NGAWI, FrekwensiPos.Com – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya merawat akar kebudayaan menjadi sebuah urgensi. Manifestasi inilah yang tercermin saat Pemerintah Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Ngawi, menggelar Malam Tirakatan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 yang bertepatan dengan momentum sakral pergantian tahun baru Islam, Muharram 1448 Hijriah.

Acara yang sarat akan dimensi historis, spiritual, dan filosofis ini berlangsung dengan khidmat di halaman Kelurahan Margomulyo pada Selasa malam (06/07/2026).

Agenda kolektif yang menjadi ruang refleksi kontemplatif (perenungan mendalam) ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Kecamatan (SekCam) Ngawi, Kepala Kelurahan Margomulyo, jajaran staf kelurahan, serta seluruh pemangku sosial kemasyarakatan dari Ketua Rukun Warga (RW) hingga Ketua Rukun Tetangga (RT) se-Kelurahan Margomulyo. Kehadiran para tokoh ini menegaskan adanya sinergi yang solid dalam menyeimbangkan roda birokrasi sekaligus melestarikan local wisdom (kearifan lokal) sebagai kompas moral masyarakat.

Kepala Kelurahan Margomulyo, Hermawan Alfin Cahyono, menyatakan bahwa peringatan tahun ini didesain secara sublim agar memiliki esensi dan resonansi budaya yang lebih mendalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Bertepatan dengan malam tirakatan Hari Jadi Ngawi ke-668 dan dalam suasana khidmat bulan Muharram 1448 H, kami berkomitmen merekonstruksi momentum ini agar lebih bermakna. Dengan melibatkan seluruh elemen lembaga dari tingkat RT hingga Kelurahan, kami menggelar prosesi bucengan (tasyakuran) dari 4 RW dan 88 RT sebagai simbol jalinan komunal, kerukunan, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta,” ujar Alfin.

Rekontekstualisasi Budaya Melalui Penjajakan Historis
Tidak sekadar menjadi ritus seremonial, esensi peringatan ini diaktualisasikan melalui aksi nyata berupa Napak Tilas mengelilingi wilayah Kelurahan Margomulyo sejauh kurang lebih 6 kilometer. Uniknya, seluruh peserta yang terlibat diwajibkan mengenakan pakaian adat sederhana. Hal ini bukan sekadar estetika visual, melainkan simbolisasi dari identitas kultural masyarakat Jawa yang bersahaja namun sarat akan martabat dan nilai-nilai luhur (adiluhung). Rute yang dilalui pun telah dirancang secara tematis guna memastikan keterlibatan aktif warga di sepanjang jalur.

Alfin menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral para pemangku kebijakan dalam melakukan cultural preservation (pelestarian budaya) sekaligus mempererat kohesi sosial antar lingkungan.

“Kegiatan ini adalah wujud akuntabilitas kita sebagai pemangku wilayah untuk melakukan revitalisasi adat-istiadat daerah yang sempat meredup digerus zaman. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada adik-adik KKN 45 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang telah dedikatif membantu menyukseskan perhelatan ini,” tambahnya.

Melalui perpaduan apik antara doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Moh Yasin (Ketua Ponpes Al Qur’an Nurul Huda) serta wejangan sejarah yang disampaikan oleh Bapak Sugito (Ketua PEPADI Ngawi), parade budaya ini diharapkan mampu memantik atensi serta kesadaran kultural generasi muda di masa depan. Penguatan aspek cultural heritage (warisan budaya) ini diproyeksikan menjadi fondasi karakter masyarakat Margomulyo yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa harus kehilangan jati diri ketimurannya. Red@@

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *