Mengentas Marginalisasi, Polres Ngawi Bedah Rumah Janda Purna Polri di Hari Bhayangkara ke-80

0-3120x4160-0-0#

NGAWI, FrekwensiPos.Com – Sebagai wujud altruisme institusional dan komitmen nyata dalam menjaga stabilitas kesejahteraan sosial di lingkup internalnya, Kepolisian Resor (Polres) Ngawi menggelar program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Program ini diprioritaskan bagi keluarga purnawirawan yang berada di titik nadir sosio-ekonomi.

Tahun ini, anugerah tersebut jatuh kepada Srijati (89 th ), seorang janda purna Polri yang tinggal di sebuah rumah petak berukuran kurang lebih 7×10 meter di Jalan Trunojoyo, Gang Mayang 1, Blok 1, Kelurahan Margomulyo, Ngawi. Di rumah yang kondisinya memprihatinkan tersebut, Srijati bertahan hidup bersama dua orang cucunya yang telah berkeluarga. Langkah proaktif Polres Ngawi ini dinilai sebagai bentuk intervensi konkret untuk mengentas marginalisasi dan memberikan hak papan yang layak bagi kelompok rentan.

Intervensi Total Tanpa Beban Birokrasi
Berbeda dengan program stimulan pada umumnya, proyek rekonstruksi hunian ini menerapkan sistem turnkey project (terima jadi). Seluruh pembiayaan diakomodasi secara penuh oleh institusi Polri tanpa membebankan anggaran sepeser pun kepada penerima manfaat maupun swadaya masyarakat sekitar.

“Program bedah rumah ini sifatnya terima jadi. Yang bersangkutan (Srijati) tidak perlu memikirkan anggaran, sangat kontras dengan mekanisme program RTLH dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang selama ini sering kali masih membutuhkan dana pendamping atau swadaya,” ujar koordinator pelaksana kegiatan saat ditemui di lokasi, Kamis (25/6/2026).

Ia menambahkan bahwa proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu satu bulan

“Target pengerjaan satu bulan penuh. Per tanggal 1 Juli 2026, seluruh komponen bangunan—mulai dari struktur utama hingga lantai keramik—harus sudah siap (ready). Berdasarkan jadwal, hunian baru ini akan diresmikan langsung oleh Kapolres Ngawi bertepatan dengan momentum Hari Bhayangkara ke-80.”

Manifestasi Inklusi dan Apresiasi dari Akar Rumput
Bagi Srijati, perhatian yang konsisten dari Polres Ngawi adalah bentuk inklusi sosial yang membuatnya tetap merasa dihargai di usia senja. Bulan depan, usianya akan menginjak 90 tahun, dan ia mengaku haru atas kepedulian yang terus mengalir dari korps berbaju cokelat tersebut.

“Saya sangat bersyukur, di usia yang hampir seabad ini, kondisi kami masih diperhatikan oleh Polri. Bahkan setiap momen hari besar Polri, saya selalu mendapatkan atensi, mulai dari bingkisan hingga bantuan uang tunai dari Polres Ngawi,” ungkap Srijati dengan mata berkaca-kaca kepada awak media FrekwensiPos.

Senada dengan Srijati, Bambang selaku Ketua RT 06 RW 04 Kelurahan Margomulyo, menegaskan bahwa aksi sosiomedis dan bantuan fisik ini memberikan dampak multiplikasi (multiplier effect) yang positif bagi ekosistem lingkungan setempat.

“Kegiatan sosial ini menjadi anugerah bagi lingkungan Mayang 1. Transformasi hunian ini sangat berpengaruh pada terciptanya lingkungan yang bersih, nyaman, dan aman,” tutur Bambang saat dikonfirmasi.

Kritik Terhadap Stagnasi Birokrasi Publik
Kendati tidak ada pemberitahuan birokratis secara formal di awal, pihak lingkungan menerima dengan tangan terbuka dan mengapresiasi eksekusi cepat dari Polri yang dinilai bersih dari beban finansial warga. Di sisi lain, Bambang memanfaatkan momentum ini untuk mengkritik pola kerja OPD yang dinilai kerap terjebak dalam stagnasi administratif tanpa realisasi konkret.

“Semoga gerakan taktis dari Polri ini bisa menstimulasi dan ditiru oleh OPD yang memiliki program RTLH. Terus terang, selama lima tahun saya menjabat sebagai ketua lingkungan di Klampisan, program bedah rumah hingga jambanisasi yang ditawarkan oleh dinas terkait sering kali berakhir menjadi harapan palsu (pemberian harapan palsu / PHP) bagi warga. Setiap tahun hanya ada survei dan survei tanpa pernah ada realisasi fisik yang konkret,” pungkas Bambang kecewa. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *