Transformasi Budaya dan Spiritual: Peresmian Padepokan PSHT Bangunrejolor Menjadi Episentrum Baru Pencak Silat Ngawi Barat

NGAWI .FREKWENSIPOS.COM – Desa Bangunrejolor, atau yang secara historis akrab disapa Desa Sonde di Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, mencatatkan momentum penting di tengah suasana khidmat Idulfitri 1447 H. Sebuah bangunan Joglo megah kini berdiri di atas tanah desa, diproyeksikan menjadi barometer sekaligus pusat edukasi bagi generasi muda Ngawi, khususnya di wilayah Barat, dalam mendalami seni Pecak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Inisiasi Strategis dan Visi Kepemimpinan
Pembangunan Padepokan PSHT Rayon Bangunrejolor ini merupakan wujud nyata kepedulian Tardi, Kepala Desa Bangunrejolor, dalam merespons tingginya animo masyarakat terhadap pencak silat. Dengan visi visioner, beliau mempelopori pendirian fasilitas ini sebagai sarana integrasi sosial dan pengembangan bakat.

“Padepokan yang berlokasi di Dusun Cengklik ini dipersiapkan sebagai wadah komunikasi antarwarga PSHT serta motor penggerak perkembangan organisasi di wilayah barat , khususnya Kecamatan Pitu,” ujar Tardi dalam keterangannya.

Peresmian ini dilakukan bersamaan dengan agenda Halalbihalal dan Silaturahmi Warga PSHT wilayah Ngawi Barat, menandai selesainya fase konstruksi fisik sekaligus penguatan ikatan persaudaraan pasca-lebaran.

Rangkaian Peresmian: Antara Religiusitas dan Tradisi

Kegiatan dimulai pada Jumat (27/03/2026) yang dibuka dengan Pengajian Akbar menghadirkan KH Ahmad Ghozali Noor (Rois Syuriah MWC NU Ngawi). Kehadiran unsur spiritual ini menegaskan bahwa pengembangan bela diri di wilayah ini berjalan beriringan dengan nilai-nilai religius.

Acara ini dihadiri oleh jajaran kehormatan, di antaranya:

Jajaran Forkopimcam Pitu (Kapolsek dan Danramil).

Staf Ahli Bupati Ngawi.

Sesepuh dan Senior PSHT serta Ketua Ranting Pitu.

Kepala Desa se-Kecamatan Pitu.

Ratusan warga dan siswa-siswi PSHT.

Sebelum puncak acara, dilakukan prosesi sakral berupa penanaman tanah yang diambil dari berbagai titik keramat (disakralkan) di lokasi pembangunan padepokan oleh para sesepuh, sebagai simbol penghormatan terhadap kearifan lokal dan nilai filosofis tanah leluhur.

Sinergi Budaya dan Harapan Prestasi
Sebagai penutup rangkaian acara, pelataran padepokan diramaikan oleh Festival Seni Reog yang melibatkan 20 paguyuban seni dari wilayah Barat, lengkap dengan puluhan penari Jaranan (Jatilan). Demonstrasi budaya ini menegaskan peran padepokan bukan sekadar tempat latihan fisik, melainkan juga pusat pelestarian seni budaya tradisional.

Dalam sambutannya, Didik, Staf Ahli Bupati Ngawi yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Ngawi, menyampaikan apresiasi mendalam. Beliau menekankan bahwa keberadaan padepokan ini harus memberikan dampak positif bagi stabilitas sosial.

“Pemerintah berharap Padepokan PSHT di wilayah Pitu ini mampu menjadi katalisator dalam menciptakan stabilitas ‘Ngawi Guyub Rukun’. Lebih dari itu, kami menantikan lahirnya atlet-atlet pencak silat berprestasi dari wilayah barat yang mampu mengharumkan nama daerah di kancah nasional maupun internasional,” pungkas Didik.

Editor: Redaksi FrekwensiPos.Com
Lokasi: Desa Bangunrejolor, Kecamatan Pitu, Ngawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *