Bojonegoro.FrekwensiPos.Com – Puluhan ibu-ibu yang merupakan wali murid penerima manfaat mendatangi lokasi *SPPG Desa Sambeng* yang bermitra dengan *Yayasan Hajjah Kartini Mulya*, untuk menyampaikan aspirasi terkait menu makanan hingga komunikasi antara pihak pengelola dan komunitas wali murid.
Kedatangan para ibu-ibu tersebut dipicu oleh adanya keluhan terkait menu dalam program *MBG (Makan Bergizi Gratis)* yang dinilai kurang transparan serta minim komunikasi dengan komunitas wali murid penerima manfaat.
Perwakilan mitra SPPG yang berada di lokasi, *Machfud*, saat memberikan keterangan kepada sejumlah awak media menjelaskan bahwa mekanisme distribusi makanan selama bulan Ramadhan memang berbeda dengan hari biasa.
Menurutnya, selama bulan Ramadhan menu yang dibagikan berupa *menu kering*, sehingga sistem distribusi dilakukan *dua hari sekali*.
“Untuk bulan Ramadhan ini karena menu yang dibagikan berupa menu kering, maka distribusinya kami lakukan dua hari sekali,” jelas Machfud kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa di beberapa SPPG lain terdapat sistem distribusi yang berbeda, sehingga di masyarakat terkadang muncul anggapan adanya perbedaan perlakuan.
Selain menjelaskan terkait distribusi MBG, Machfud juga menunjukkan fasilitas *IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)* yang dimiliki SPPG kepada awak media yang hadir.
Ia menjelaskan bahwa limbah air dari aktivitas dapur terlebih dahulu diolah melalui sistem serapan IPAL sebelum dialirkan ke saluran pembuangan.
“Setelah dilakukan serapan melalui IPAL, barulah air sisa yang sudah bersih ini mengalir ke selokan atau drainase di jalan,” terangnya.
Saat ditanya oleh awak media apakah air tersebut memang mengalir langsung menuju selokan di jalan raya, Machfud membenarkan hal tersebut.
“Ya, memang setelah melalui proses serapan di IPAL, air tersebut mengalir ke selokan yang ada di jalan raya,” ujarnya.
Sementara itu, puluhan ibu-ibu yang datang dalam aksi tersebut menyampaikan bahwa tujuan mereka adalah meminta adanya *komunikasi yang lebih terbuka* antara pihak pengelola SPPG dengan komunitas wali murid penerima manfaat.
Mereka berharap pihak pengelola dapat memberikan penjelasan yang lebih jelas mengenai *menu makanan maupun kandungan gizi* yang diberikan kepada anak-anak.
Salah satu wali murid, *Bu Akin*, mengatakan bahwa momen libur sekolah saat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak SPPG untuk melakukan evaluasi.
“Kami berharap mumpung sedang liburan ini, pihak SPPG bisa melakukan evaluasi. Ke depan kami ingin ada komunikasi yang lebih baik dengan komunitas wali murid penerima manfaat, termasuk terkait menu dan kandungan gizinya,” ungkapnya kepada awak media.
Selain persoalan menu, seorang warga Desa Sambeng yang enggan disebutkan namanya juga mengeluhkan soal *limbah dari aktivitas dapur SPPG*. Ia menilai kapasitas IPAL yang ada diduga tidak sebanding dengan jumlah produksi makanan yang mencapai sekitar *3.200 porsi per hari*.
“Dengan kapasitas produksi sebesar itu, kami khawatir IPAL yang ada tidak sesuai dengan kapasitas dapur yang mengcover sekitar 3.200 porsi setiap harinya,” ujarnya.
Warga berharap baik *koordinator SPPG* maupun *Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro* dapat turun langsung melakukan *inspeksi mendadak (sidak)* atas aduan masyarakat tersebut.
Mereka berharap langkah tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar ke depan pengelolaan SPPG bisa berjalan lebih baik, baik dari sisi pelayanan kepada penerima manfaat maupun dari aspek pengelolaan lingkungan.( WHY )
