NGAWI, FrekwensiPos.Com – Menanggapi diskursus publik mengenai potensi hambatan program ketahanan pangan di Desa Grudo, Kepala Desa Triono memberikan klarifikasi strategis terkait tata kelola dan realisasi anggaran. Meskipun terdapat tantangan logistik, Pemerintah Desa (Pemdes) Grudo menegaskan tetap berada dalam koridor rencana aksi yang telah ditetapkan.
Relokasi Anggaran dan Mekanisme Penyerapan
Triono menjelaskan bahwa realisasi anggaran Ketahanan Pangan (Ketapang) tahap kedua telah dilakukan melalui mekanisme pemindahbukuan dari rekening kas desa ke rekening Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) pada akhir tahun anggaran, yakni 28–29 Desember 2025.
Meskipun secara administratif dana telah berpindah, proses pengadaan barang (procurement) baru dapat dilaksanakan pada awal tahun 2026. Hal ini merupakan bagian dari strategi fiscal management agar anggaran tetap tersedia secara spesifik untuk tujuan semula.
Integritas Program di Tengah Opsi Relokasi
Dalam tinjauan lapangan, Kades Grudo mengungkapkan bahwa infrastruktur fisik berupa kandang telah mencapai status ready for use. Kendala utama saat ini terletak pada keterlambatan distribusi bibit ayam petelur.
Menariknya, Triono menunjukkan sikap persistence (kegigihan) terhadap visi awal program. Di saat terdapat regulasi yang memungkinkan pengalihan anggaran (melalui mekanisme non-earmarked atau penyesuaian KDMP) untuk kegiatan lain, Pemdes Grudo memilih untuk tidak melakukan perubahan peruntukan (refocusing).
“Kami bersikukuh untuk tidak melakukan intervensi atau mengubah alokasi ketahanan pangan tersebut. Fokus kami adalah memastikan sustainability program; setelah kandang selesai dan bibit tersedia, BUMDES harus segera merasakan kemanfaatan ekonomi pada tahun berjalan ini,” tegas Triono.
Transparansi Operasional BUMDES
Guna menjaga prinsip accountability, Triono mengarahkan konfirmasi teknis lebih lanjut kepada jajaran Direksi BUMDES selaku pelaksana operasional di lapangan.
Sementara itu, Direktur BUMDES berinisial NN, melalui pesan singkat, membenarkan adanya kendala pada sisi suplai. Ia menyatakan bahwa saat ini bibit ayam petelur masih dalam status indent process (pemesanan inden). Namun, saat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai vendor atau poultry shop terkait guna transparansi publik, pihak BUMDES belum memberikan penjelasan mendalam. RED ** sambung



