Harmoni Tradisi dan Spiritual

0-4160x3120-0-0#

Warga Klampisan Ngawi Gelar Tirakatan Malam 1 Suro “Udhar Gelung”

NGAWI, FrekwensiPos.Com — Momentum pergantian tahun Jawa, Malam 1 Suro, disambut dengan khidmat dan sarat makna oleh warga RT 06 RW 04 Lingkungan Klampisan, Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi. Pada Selasa malam (16/06/2026), masyarakat setempat menginisiasi agenda perdana berupa ritual tirakatan yang dikemas secara luhur dalam tema “Udhar Gelung”. Berpusat di Gardu (Pos Kampling) Mayang 1 Gayeng, kegiatan ini menjadi wadah integrasi antara pelestarian budaya (kearifan lokal) dan penguatan spiritualitas.

Mewujudkan Cegah Wungon dan Tradisi Mubeng Kampung
Dalam mengejawantahkan makna Malam 1 Suro, warga tidak sekadar berkumpul, melainkan menyelami laku spiritual melalui ritual lek-lekan atau cegah wungon (mengurangi tidur di malam hari untuk mawas diri). Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual berjalan kaki mengelilingi lingkungan dengan rute melawan arah jarum jam.

Secara filosofis dan intelektual, gerakan counter-clockwise ini merupakan simbolisasi dari retrospeksi dan introspeksi—sebuah upaya memutar kembali memori untuk mengevaluasi diri. Di sepanjang langkah sunyi tersebut, warga memanjatkan doa / wiridan , mentransformasikan aktivitas fisik menjadi sebuah kontemplasi religi demi mendekatkan hati kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini esensinya bertujuan untuk menolak bala (reproach terhadap malapetaka) serta memohon proteksi ilahi agar lingkungan mereka senantiasa diberkahi kedamaian.

Filosofi “Udhar Gelung” dan Social Cohesion
Ketua RT 06 RW 04, Bambang, dalam keterangannya menyampaikan bahwa momentum ini diproyeksikan sebagai fondasi kultural baru yang diharapkan mampu bertransformasi menjadi agenda tahunan yang ajek di lingkungan Mayang 1.

Dengan tema Udhar Gelung, kami merefleksikan sebuah konsep dekonstruksi perilaku. Artinya, ini adalah saat yang tepat bagi kehidupan bermasyarakat di Lingkungan Mayang untuk mengurai (ngudar) dan melepaskan ikatan ego, konflik, maupun hal-hal buruk masa lalu. Setelah dilepaskan, kami mengikatnya kembali dengan komitmen baru yang lebih harmonis,” ujar Bambang.

Bambang juga menambahkan bahwa ritual jalan melingkar tersebut mengindikasikan harapan kolektif agar kohesi sosial masyarakat semakin solid, selaras dengan jargon kebanggaan mereka: “Mayang Gayeng” (lingkungan yang penuh kebahagiaan, kebersamaan, dan kerukunan).

Sinergi Doa dan Simbolisme Kuliner Tradisional
Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian tirakatan, warga menggelar upacara kenduri atau selamatan dengan menyajikan nasi tumpeng / panggang ayam jawa dan jenang abang putih.

Sajian Tradisional Manifestasi Makna
Nasi Tumpeng Simbol vertikalitas hubungan manusia dengan Sang Pencipta (habluminallah).
Jenang Abang Putih Simbol dualitas kehidupan, asal-usul fitrah manusia, serta keseimbangan alam.
Sajian kultural ini menjadi representasi konkret dari rasa syukur (syukur kondisional) atas segala nikmat yang telah diterima. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat setempat, menggaungkan harapan kolektif demi terwujudnya masyarakat yang Gemah Ripah Loh Jinawi dan senantiasa dalam lindungan-Nya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *