DPUPR Ngawi Dorong Rekonstruksi dan Mitigasi Struktur Jembatan

Akselerasi Infrastruktur , Tingkat Kemantapan Jalan Kabupaten Ngawi Tembus 96,78 Persen

Ngawi, FrekwensiPos.Com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Ngawi mencatat progres signifikan dalam program peningkatan kualitas infrastruktur jalan. Hingga tahun anggaran 2026, indeks road accessibility dan tingkat kemantapan (road serviceability) jalan kabupaten di wilayah ini dilaporkan telah sukses menyentuh angka 96,78 persen.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Ngawi, M. Fauzi Amir Rahman, memaparkan bahwa total bentang asset inventory jalan kabupaten di Ngawi mencapai 748 kilometer, yang terdistribusi secara interkoneksi ke dalam 269 ruas jalan. Berdasarkan hasil standardisasi dan assessment teknis terhadap kategori jalan berkondisi baik (good condition) serta sedang (fair condition), persentase kemantapan jalan secara agregat kini berada di atas 95 persen.

“Untuk tahun berikutnya, kemungkinan persentase kemantapan jalan ini bisa bertambah lagi seiring dengan berjalannya program eskalasi mutu,” ujar Fauzi saat memberikan keterangan pers, Kamis (9/7/2026).

Fauzi Amir melanjutkan, guna mempertahankan stabilitas lifespan (umur rencana) serta meningkatkan kualitas geometrik jalan tersebut, DPUPR Ngawi telah mengagendakan 9 program kerja strategis (action plan) pada tahun ini. Rencana kerja tersebut mencakup langkah komprehensif, mulai dari Rekonstruksi Jalan (road reconstruction), Pemeliharaan Berkala (periodic maintenance), Pemeliharaan Rutin (routine maintenance), hingga penggantian elemen jembatan (bridge replacement).

Selain berfokus pada koridor jalan, DPUPR Ngawi juga memberikan atensi khusus pada aspek keselamatan (safety management) dengan memprioritaskan rekonstruksi total satu titik jembatan krusial. Infrastruktur penghubung tersebut, tepatnya pada segmen ruas Tambakromo–Campurasri. Langkah intervensi ini diambil lantaran kondisi struktural bangunan atas (superstructure) maupun bangunan bawah (substructure) jembatan dinilai sudah mengalami degradasi berat, sehingga mendesak untuk dibongkar demi keselamatan traffic flows.

Berdasarkan hasil risk assessment dan mitigasi teknis di lapangan, jembatan tersebut diperkirakan terakhir kali mendapatkan rehabilitasi struktural sebelum tahun 2003. Oleh karena itu, modernisasi jembatan ini menjadi agenda mendesak demi menjamin keamanan pengendara dan kelancaran logistik daerah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *