Adorasi Komunal dan Ruwat Bumi ,  Manifestasi Syukur Warga Kwadungan

Ngawi, FrekwensiPos.Com — Tradisi bersih desa, atau yang lebih dikenal secara meluas oleh masyarakat Kabupaten Ngawi dengan istilah ‘Nyadran’, merupakan salah satu manifestasi budaya adiluhung yang tetap eksis dan tidak lekang digilas roda zaman. Khazanah kearifan lokal ini senantiasa dipertahankan secara turun-temurun oleh hampir seluruh desa dan kelurahan di wilayah Ngawi. Konsistensi ini terlihat jelas dari kepatuhan masyarakat dalam merawat ritus penanggalan, pemilihan hari baik, hingga pementasan ragam hiburan sakral seperti Wayang Kulit, Wayang Krucil, hingga Tari Gambyong.

Desa Kwadungan, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi—sebuah wilayah yang secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Madiun—menjadi salah satu desa yang secara konsisten menggelar ritus tahunan ini. Agenda bersih desa tersebut dipusatkan di Pendopo Agung Desa Kwadungan.

Perhelatan sakral yang berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026 ini memancarkan nuansa gotong royong yang kuat. Acara ini dihadiri oleh seluruh elemen pemuka adat, tokoh agama, jajaran aparatur pemerintahan, organisasi kepemudaan, serta diikuti secara antusias oleh warga Dusun Kwadungan 1 dan Dusun Kwadungan 2.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan panitia atau tokoh masyarakat setempat, Titi Lesti, memaparkan bahwa kegiatan ini disokong secara struktural oleh anggaran desa.

“Kegiatan Bersih Desa Kwadungan ini didanai melalui Pendapatan Asli Desa (PADes) Kwadungan sebesar Rp 12.750.000, yang dialokasikan untuk pemenuhan sarana prasarana penunjang serta akomodasi para undangan. Sementara itu, warga secara sukarela membawa hasil bumi (sedekah bumi) sebagai bentuk adorasi komunal. Hasil bumi tersebut disajikan di tengah prosesi ritual selamatan, dan setelah dihaturkan doa oleh tetua adat serta pemuka agama, barulah dinikmati bersama-sama. Seluruh rangkaian ritual inti ini berlangsung khidmat sejak pukul 13.00 hingga 17.00 WIB,” urainya.

Sebagai penutup dari rangkaian perhelatan budaya ini, masyarakat disuguhkan oleh performa seni tradisional yang memukau sebagai simbol rasa syukur.

“Puncak acara bersih desa tahun ini tetap mempertahankan pakem tradisi seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni ditutup dengan pementasan Tari Gambyong dan Seni Karawitan Klumpit yang dipimpin oleh Pangarih Bu Marmi,” pungkas Titi Lesti. Red.adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *