NGAWI, FREKWENSI POS.COM — Suasana khidmat bercampur magis menyelimuti Desa Kendung, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi. Tepat pada penanggalan Jawa Jumat Wage (31/07/2026), masyarakat setempat menyelenggarakan perhelatan ritual tahunan bertajuk “Bersih Desa”.
Bertempat di Punden Desa Kendung—situs eksistensial yang secara turun-temurun diyakini sebagai makam leluhur sekaligus cikal bakal (dhanyang) pemukiman warga—rangkaian prosesi kultural ini berlangsung secara terstruktur dan penuh penghayatan sejak Jumat pagi hingga berakhir pada Sabtu malam. Peristiwa ini tak hanya menjadi magnet sosial bagi warga lokal, melainkan juga menyedot perhatian antusiasme pengunjung dari berbagai daerah luar kabupaten.
Manifestasi Kosmologis dan Integrasi Sosial
Rangkaian perayaan diawali pada pukul 10.00 WIB melalui prosesi sedekahan atau selamatan di Punden Desa. Selamatan ini merepresentasikan ungkapan rasa syukur komunal atas limpahan rahmat rezeki serta keselamatan dari Sang Pencipta. Berlanjut pada pukul 14.30 WIB, dilangsungkan puncak ritual adat yang dipimpin oleh para sesepuh desa. Secara etno-sosiologis, tradisi ini merupakan bentuk integrasi kosmologis antara manusia, alam, dan penghormatan kepada arwah para leluhur guna memperkuat ikatan spiritualitas kemasyarakatan.
Dengan menyajikan gunungan hasil bumi warga untuk direbutkan di lokasi yang sudah ditentukan.
Eksklusivitas Tari Gaplik dan Hak Privilese Genealogis
Puncak dari keunikan kebudayaan Desa Kendung terletak pada pementasan kesenian tradisional yang menyerupai seni ludruk, yakni Tari Gaplik (atau pementasan Pak Gaplik). Kesenian sakral yang rutin dipentaskan saban Jumat Wage di bulan Agustus ini memiliki kekhasan yang amat ketat: ditarikan secara tunggal oleh seorang laki-laki yang wajib memiliki legitimasi lineage (garis keturunan darah) langsung dari pencipta awal tarian tersebut.
Saat ini, pemegang amanah kebudayaan tersebut adalah Saudara Hartono, yang bertindak sebagai penerus generasi ke-4 menggantikan ayahnya, Almarhum Saudara Kasno. Penjagaan ketat terhadap transmisi keturunan ini menegaskan bahwa Tari Gaplik bukan sekadar seni pertunjukan komersial, melainkan amanat sakral yang bertaut erat dengan eksistensi punden dan sejarah berdirinya Desa Kendung itu sendiri.
Ritual Malam Nyadran: Dari Obor Bambu hingga Tembang Ontang-Anting
Pelaksanaan Tari Gaplik dimulai sekitar pukul 19.30 WIB (ba’da Isya) di komplek Pemakaman Umum desa, persis di hadapan makam leluhur. Suasana dramatis tersaji tatkala penari tunggal berjalan perlahan menyusuri kegelapan pemakaman menuju makam keramat dengan hanya diterangi pendar cahaya obor bambu.
Secara struktur penyajian, setelah pembukaan tarian sakral, pementasan berlanjut pada tontonan kesenian Pak Gaplik—sebuah koreografis hybrid yang memadukan teater komedi, instrumen musik karawitan, dan tarian.
Tokoh utama Pak Gaplik didandani berkarakter ala prajurit Mataram dengan riasan wajah tebal dan jenaka, menyerupai karakter Punokawan Bagong. Dalam lakonnya, Pak Gaplik menyajikan rayuan-rayuan kocak kepada para pesinden. Tak lupa, lagu/gending khusus berjudul “Genting Ontang-Anting” senantiasa dikumandangkan sebagai gending wajib yang menyertai jalannya pertunjukan.
Dimensi Apotropaik: Etimologi dan Sejarah Pengusir Pagebluk
Meski penanggalan pasti sejarah berdirinya Kesenian Gaplik belum tercatat secara formal, eksistensinya diproyeksikan telah mengakar sejak era pra-kemerdekaan Indonesia dan mulai terintegrasi secara rutin dalam ritual Nyadran sejak tahun 1966. Secara etimologis, kata Gaplik merupakan akronim filosofis dari “Gambaran Petunjuk Liwat Kesenian”.
Masyarakat Desa Kendung meyakini bahwa Tari Gaplik memiliki dimensi apotropaik (sarana penolak bala). Konon, latar belakang lahirnya tarian ini bermula ketika Desa Kendung diterpa bencana pagebluk (wabah penyakit) dan huru-hara. Setelah pementasan Tari Gaplik dihaturkan, tatanan kehidupan desa kembali aman, tentram, dan damai. Oleh karena itu, ritual Nyadran dan Tari Gaplik dipelihara sebagai media preservasi ingatan kolektif sekaligus benteng spiritual warga.
Penutup: Resonansi Tari Gambyong dan Kebersamaan Komunal
Rangkaian prosesi panjang adat Bersih Desa Kendung ditutup secara anggun melalui pementasan Tari Gambyong. Tari ini ditarikan bersama oleh para sesepuh desa beserta seluruh lapisan warga sebagai simbol keharmonisan, kehangatan sosial, serta ungkapan sukacita bersama.
Melalui tata cara penyajian yang terstruktur—mulai dari ragam gerak, riasan, busana, hingga properti ritual—tradisi Bersih Desa Kendung tidak sekadar menjadi kalender kebudayaan tahunan Kabupaten Ngawi, melainkan sebuah laboratorium kebudayaan yang memperlihatkan betapa kearifan lokal Jawa Timur sarat akan kedalaman filosofi kehidupan. Red.Adv
